SASTRA LISAN: Mosehe, Moanggo, Kinoho, dan Nyanyian Rakyat ‘HARTA KARUN ’ ORANG TOLAKI: osehe, Moanggo, Kinoho, dan Nyanyian Rakyat Orang Tolaku

Authors

Aris Badara
FKIP Universitas Haluoleo

Keywords:

Sastra Lisan

Synopsis

Keberadaan sastra lisan yang dikreasi oleh manusia didasarkan pada pemenuhan kebutuhan yang memiliki nilai estetis bagi penutur dan penikmatnya. Oleh sebab itu, sastra lisan dapat bermanfaat bagi pengembangan kebudayaan nasional yang saat ini sedang mengalami distorsi. Sebagai salah satu unsur kebudayaan, sastra lisan juga memiliki variasi yang beragam. Isinya pun berkaitan dengan berbagai peristiwa yang terjadi pada masyarakat pendukungnya,. Sebagai aset budaya yang cenderung terlupakan, sudah saatnya sastra lisan dilestarikan melalui transliterasi ke bahasa Indonesia maupun bahasa asing. Dengan demikian sastra lisan sebagai 'harta karun' dapat dinikmati oleh masyarakat luas. 

 

Downloads

Download data is not yet available.

References

1. Abdullah, I. (1995). Privatisasi Agama: Globalisasi atau Melemahnya Referensi Budaya Lokal? Seminar Kharisma Warisan Budaya Islam di Indonesia. Yogyakarta.
2. Acikgence, A. (1996). The Framework for a History of Islamic Philosophy. Journal of the Institute of Islamic Thought and Civilization.
3. Ahmadi, A. & Uhbiyati. (2007). Ilmu Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.
4. Alfian. (1985). Politik, Kebudayaan dan Manusia Indonesia. Jakarta: LP3ES
5. Apituley, L. (1991). Struktur Sastra Lisan Totemboan. Jakarta: Depdikbud.
6. Appadurai, A. (2005). Modernity at Large: Cultural Dimensions of Globalization. Minneapolis, USA: University of Minnesota Press.
7. Arifin, B. (1990). Sastra Indonesia (Lama-Baru-Modern). Bandung: Angkasa.
8. Arzamid, dkk. (2000). Kamus Bahasa Tolaki. Unaaha: Sahabat Offset. Astika, I M. & Yasa, I N. (2014). Sastra Lisan Teori dan Penerapannya. Yogyakarta: Graha Ilmu.
9. Aswati, (2000). Kalosara dalam Kehidupan Masyarakat Tolaki.
10. Musyawarah Adat I Suku Bangsa Tolaki. Unaaha.
11. Berger, P. L. (1990). The Sacred Canopy: Elements of A Sociological
12. Theory of Religion. New York: Anchor Book.
13. Bertens, K. (1996). Etika. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
14. Bowie, A. (1998). Introduction dalam A. Bowie (Ed.), Friedrich Daniel Ernst Schleiermacher: Hermeneutics and Criticism and Other Writings. Cambridge Text in the History of Philosophy. Cambridge: Cambridge University Press.
15. Bulhof, I. (1980). Wilhem Dilthey: A Hermeneutic Approach to the Study of History and Culture. Boston: Martinus Nijhoff.
16. Burhanuddin, dkk. (1978/1979). Sejarah Kebangkitan Nasional Daerah Sulawesi Tenggara. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
17. Caputo, J. D. (1987). Radical Hermeneutics: Repetition, Deconstruction and Hermeneutic Project. Bloomington: Indiana University Press.
18. Danandjaja, J. (1991). Folklor Indonesia. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti.
19. Eco, U. (1990). The Limits of Interpretation. Bloomington: Indiana University Press.
20. Fakih, M. (2000), Pembangunan: Pelajaran Apa yang Kita Dapat?. Jurnal Ilmu Sosial Transformatif, II (5).
21. Gadamer, H. G. (1975). Truth and Method (terj. J. Weinsheimer & D. G. Marshall). London: Crossroad Publishing.
22. Gadamer, H. G. (1976). Philosophical Hermeneutics (terj. D. E. Linge). Berkeley: University of California Press.
23. Hadot, P. (1999). Philosophy as a Way of Life. Oxford: Blackwell Publisher.
24. Hasbullah. (2005). Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
25. Hoed, B. H. (2004). Bahasa dan Sastra dalam Tinjauan Semiotik dan Hermeneutik dalam T. Christomy & U. Yuwono (Penyunting), Semiotika Budaya. Jakarta: 26. 26. Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Budaya Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat Universitas Indonesia.
27. Hutomo, S. S. (1991). Mutiara yang Terlupakan: Pengantar Studi Sastra Lisan. Surabaya: HISKI Jawa Timur.
28. Idaman & Rusland. (2012). Islam dan Pergeseran Pandangan Hidup Orang Tolaki, Al-Ulum Jurnal Studi-Studi Islam, 12 (2), 267–302.
29. Ihromi, T. O. (1987). Pokok-Pokok Antropologi Budaya. Jakarta: Gramedia.
30. Karsadi. (2002). Sengketa Tanah dan Kekerasan di Daerah Transmigrasi: Studi Kasus di Lokasi Pemukiman Transmigrasi di Kabupaten Kendari, Sulawesi 31. Tenggara (Disertasi). Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
32. Keesing, R. M. (1981). Cultural Anthropology: A Contemporary Perspective. London: Holt, Rinehart & Winston.
33. Koentjaraningrat. (1984). Kebudayaan, Mentalitas, dan Pembangunan. Jakarta: Gramedia.
34. Koodoh, E. E., Alim, A., & Bacharuddin. (2011). Hukum Adat Orang Tolaki. Yogyakarta: Teras.
35. Lakebo, dkk. (1977/1978). Adat Istiadat Daerah Sulawesi Tenggara. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
36. Leidecker, K. F. (1976). Hermeneutics, dalam D. D. Runes (Ed.), Dictionary of Philosophy. Totowa, NJ: Littlefield, Adams & Co.
37. Moleong, L. J. (2007). Metodologi Penelitian Kualitatif. Jakarta: Remaja Rosdakarya.
38. Nurgiyantoro, B. (1995). Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
39. Palmer, R. E. (1969). Hermeneutics: Interpretation Theory in Schleiermacher, Dilthey, Heidegger, and Gadamer. Evanston, IL: Northwestern University Press.
40. Pateda, M. (2001). Semantik Leksikal. Jakarta: Rineka Cipta. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 14 Tahun 2005 tentang Organisasi dan Tata Kerja Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional. Jakarta: Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah.
41. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2007 tentang Standar Penilaian Pendidikan. Jakarta: Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah.
42. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi. Jakarta: Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah.
43. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan. Jakarta: Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah.
44. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2006 tentang Pelaksanaan Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2007. Jakarta: Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah.
45. Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Jakarta: Fokus Media.
46. Pradopo, R. D. (2008). Beberapa Teori Sastra, Metode Kritik, dan Penerapannya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
47. Pudentia M. P. S. S. (1999). Kematian Tradisi menuju Proses Kehilangan Identitas, dalam Pudentia MPSS & S. Arybowo (Ed.), Suara-Suara Milenium: Keragaman Budaya. Jakarta: Festival Budaya Nusantara.
48. Pusat Bahasa Depdiknas. (2005). Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi ke-3. Jakarta: Balai Pustaka.
49. Rafiek, M. (2010). Teori Sastra Kajian: Teori dan Praktik. Bandung: Refika Aditama.
50. Rahmawati dkk. (2007). Sastra Lisan Tolaki. Kendari: Kantor Bahasa Sultra.
51. Ratna, N. K. (2008). Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
52. Ricouer, P. (1982). Hermeneutics and Human Sciences. Cambridge: Cambridge University Press.
53. Santosa, P. (2012) Kearifan Budaya dan Fungsi Kemasyarakatan dalam Sastra Lisan Kafoa. Metasastra, 5 (1), 67–82.
54. Semi, A. (1993). Metode Penelitan Sastra. Bandung: Angkasa.
55. Setia, E. (1990). Fungsi dan Kedudukan Sastra Melayu Serdang. Jakarta: Depdikbud.
56. Setiadi, E. M. (2006). Ilmu Sosial dan Budaya Dasar. Jakarta: Kencana. Smart, N. (2002). From Dimensions of the Sacred: An Anatomy of the World’s Belief. USA: Wadsworth.
57. Soekanto, S. (1983). Pribadi dan Masyarakat (Suatu Tinjauan Sosiologis). Bandung: Alumni.
58 Soelaeman, M. (1995). Ilmu Budaya Dasar Suatu Pengantar. Bandung: Eresco.
59. Su’ud, M. (1992). Masyarakat Pedesaan di Kabupaten Dati II Kendari, Kendari: Balai Penelitian Universitas Haluoleo.
60. Su’ud, M. (1992). Peranan Kepemimpinan Kelembagaan Adat Kalosara dalam Pembinaan Tata tertib Sosial dan Tertib Hukum untuk Meningkatkan Partisipasi Masyarakat terhadap Pembangunan.
61. Su’ud, M. (2000). Nilai-Nilai Budaya Tolaki sebagai Penopang Sistem Otonomi Daerah. Musyawarah Adat I Suku Bangsa Tolaki. Unaaha.
62. Sudikan, S. Y. (2001). Metode Penelitian Sastra Lisan. Surabaya: Citra Wacana.
63. Sukatman. (2009). Butir-Butir Tradisi Lisan Indonesia: Pengantar Teori dan Pembelajarannya. Yogyakarta: Laksbang Pressindo.
64. Sumaryono, E. (1999). Hermeneutik: Sebuah Metode Filsafat. Yogyakarta: Kanisius.
65. Suparlan, P. (1995). Orang Sakai di Riau: Masyarakat Terasing dalam Masyarakat Indonesia. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
66. Suseno, F. M. (1998). Model-Model Pendekatan Etika. Yogyakarta: Kanisius.
67. Suyitno. (1986). Sastra, Tata Nilai, dan Eksegesis. Yogyakarta: Hanindita.
68. Tarigan, H. G. (1993). Prinsip-Prinsip Dasar Sastra. Bandung: Angkasa.
69. Tarigan, H. G. (2009). Pengajaran Semantik. Bandung: Angkasa. Tarimana, A. (1993). Kebudayaan Tolaki. Jakarta: Balai Pustaka.
70. Tawulo, A., dkk. (1991). Pranata Kepemimpinan Tusa Wuta dalam Sistem Pertanian Masyarakat Tolaki di Kabupaten Kendari, Kendari: Balai Penelitian Universitas Haluoleo.
71. Teeuw, A. (1984). Sastra dan Ilmu Sastra: Pengantar Teori Sastra. Jakarta: Pustaka Jaya.
72. Tinambunan, T. R. dkk. (1996). Sastra Lisan Dairi. Jakarta: Depdikbud.
73. Tondrang, A. (2000). Peranan Kalosara dalam Pembentukan Karakter Masyarakat Tolaki. Musyawarah Adat I Suku Bangsa Tolaki. Unaaha.
74 Tuloli, N. (1991). Tanggamo: Salah Satu Ragam Sastra Lisan Gorontalo. Jakarta: Intermasa.
75. Zaidan, A. R., dkk. (2007). Kamus Istilah Sastra. Jakarta: Balai Pustaka.
76. Zarkasyi, H. F. (2010). Pandangan Hidup, Ilmu Pengetahuan, dan Pendidikan Islam. www.fajarislam.com
tolaki

Downloads

Published

September 28, 2020